Sejarah Lengkap Aplikasi SLiMS
Sekilas Pengertian SLiMS
SLiMS merupakan aplikasi open source yang dilisensikan di bawah GPL v3 dan merupakan asli karya anak bangsa. Aplikasi SLiMS saat ini mempunyai peran penting dalam perkembangan dunia perpustakaan baik di Indonesia bahkan sudah dipakai institusi beberapa negara.
Aplikasi SLiMS, walaupun terbilang aplikasi baru, namun pada tahun 2009 sudah memenangi INAICTA 2009 untuk kategori open source.
Developers SLiMS (Senayan Developer Community)
Programmer:
Arie Nugraha, Hendro Wicaksono, Tobias Zeumer, Wardiyono, Indra Sutriadi, Eddy Subratha, Waris Agung Widodo
Documentation:
Purwoko, Arif Syamsudin, Hendro Wicaksono, Muhammad Rasyid Ridho, Sulfan Zayd, Wardiyono
1. Asal Mula Lahirnya SLiMS.
Awal SLiMS ini muncul bermula dari perpustakaan di Inggris yaitu The British Council yang sudah beroperasi selama kurang lebih 50 tahun menutup layanannya. Selanjutnya The British Council menghibahkan pengelolaan aset perpustakaanya pemerintah. Saat itu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas sekarang disebut Kemendikbud), termasuk aplikasi manajemen perpustakaan yang disebut Alice.
Seiring dengan berjalannya waktu, manajemen Perpustakaan Depdiknas mulai menghadapi beberapa kendala dalam penggunaan sistem Alice, diantaranya :
1. keterbatasan dalam menambahkan fitur-fitur baru. Antara lain: kebutuhan manajemen serial, meng-online-kan katalog di web dan kustomisasi report yang sering berubah-ubah kebutuhannya. Penambahan fitur jika harus meminta modul resmi dari developer Alice, berarti membutuhkan dana tambahan yang tidak kecil. Apalagi tidak ada distributor resminya di Indonesia sehingga harus mengharapkan support dari Inggris. Ditambah lagi beberapa persyaratan yang membutuhkan infrastruktur biaya mahal seperti dedicated public IP agar bisa meng-online-kan Alice di web.
Saat itu untuk mengatasi sebagian kebutuhan (utamanya kustomisasi report), dilakukan dengan ujicoba mengakses langsung database yang disimpan dalam format DBase. Terkadang berhasil terkadang tidak karena struktur datanya proprietary dan kompleks serta jumlah rekodnya banyak. Untuk mempelajari struktur database, dicoba melakukan kontak via email ke developer Alice. Tetapi tidak ada respon sama sekali.
2. Sulitnya mempelajari lebih mendalam cara kerja perangkat lunak Alice. Karena Alice merupakan sistem proprietary yang serba tertutup, segala sesuatunya sangat tergantung vendor. Dibutuhkan sejumlah uang untuk mendapatkan layanan resmi untuk kustomisasi.
Perpustakaan Depdiknas salah satu tupoksinya adalah melakukan koordinasi pengelolaan perpustakaan unit kerja dibawah lingkungan Depdiknas. Dalam implementasinya, seringkali muncul kebutuhan untuk bisa mendistribusikan perangkat lunak sistem perpustakaan ke berbagai unit kerja tersebut.
3. Sulit (atau tidak mungkin) untuk melakukan redistribusi sistem Alice. Alice merupakan perangkat lunak yang secara lisensi tidak memungkinkan diredistribusi oleh pengelola Perpustakaan Depdiknas secara bebas. Semuanya harus ijin dan membutuhkan biaya.
Permasalahan bukan hanya soal fitur karena pada bulan November 2006 sistem Alice tiba-tiba menjadi tidak dapat digunakan. Dan ditemukan fakta bawa ternyata sistem Alice yang digunakan selama ini menerapkan sistem sewa. Yang artinya setiap tahun pengguna harus membayar kembali untuk memperpanjang masa sewa.
Dengan sistem sewa artinya, jika tidak dibayar karena lupa atau tidak ingin berlangganan lagi maka perpustakaan akan kehilangan akses terhadap semua informasi koleksi perpustakaan yang tersimpan dalam aplikasi tersebut. Ini sama halnya dengan bunuh diri untuk terus bergantung pada sistem berlisensi seperti itu.
Melalui beberap masalah tersebut, akhirnya pengelola Perpustakaan Depdiknas me-review kembali penggunaan sistem Alice di perpustakaan Depdiknas. Ada beberapa poin penting review terhadap aplikasi tersebut yaitu:
1. Alice memang handal (reliable), tapi punya banyak keterbatasan. Biaya sewanya memang relatif murah, tetapi kalau membutuhkan support tambahan, baik sederhana ataupun kompleks, sangat tergantung dengan developer Alice yang berpusat di Inggris. Butuh biaya yang kalau di total juga tidak murah.
2. Model lisensi proprietary yang digunakan developer Alice tidak cocok dengan kondisi kebanyakan perpustakaan di Indonesia. Padahal pengelola Perpustakaan Depdiknas sebagai koordinator banyak perpustakaan di lingkungan Depdiknas, punya kepentingan untuk bisa dengan bebas melakukan banyak hal terhadap software yang digunakan.
3. Menyimpan data penting dan kritikal untuk operasional perpustakaan di suatu software yang proprietary dan menggunakan sistem sewa, dianggap sesuatu yang konyol dan mengancam independensi dan keberlangsungan perpustakaan itu sendiri.
4. Alice berjalan diatas sistem operasi Windows yang juga proprietary padahal pengelola Perpustakaan Depdiknas ingin beralih menggunakan Sistem Operasi open source (seperti GNU/Linux dan FreeBSD).
5. Masalah devisa negara yang terbuang untuk membayar software yang tidak pernah dimiliki.
6. Intinya: pengelola Perpustakaan Depdiknas ingin menggunakan software yang memberikan dan menjamin kebebasan untuk: menggunakan, mempelajari, memodifikasi dan melakukan redistribusi. Lisensi Alice tidak memungkinkan untuk itu.
Adanya keinginan untuk hijrah menggunakan sistem yang lain, maka langkah berikutnya adalah mencari sistem yang ada untuk digunakan atau mengembangkan sendiri sistem yang dibutuhkan. Beberapa pertimbangan yang harus dipenuhi:
• Dirilis dibawah lisensi yang menjamin kebebasan untuk: menggunakan, mempelajari, memodifikasi dan melakukan redistribusi. Model lisensi open source (www.openosurce.org) dianggap sebagai model yang paling ideal dan sesuai.
• Teknologi yang digunakan untuk membangun sistem juga harus berlisensi open source.
• Teknologi yang digunakan haruslah teknologi yang relatif mudah dipelajari oleh pengelola perpustakaan Depdiknas yang berlatarbelakang pendidiknas pustakawan, seperti PHP (scripting language) dan MySQL (database). Jika tidak menguasai sisi teknis teknologi, maka akan terjebak kembali terhadap ketergantungan pada developer.
Langkah berikutnya adalah melakukan banding software sistem perpustakaan open source yang bisa diperoleh di internet. Beberapa software yang dicoba antara lain: phpMyLibrary, OpenBiblio, KOHA, EverGreen
Baca juga : Aplikasi Open Source Untuk Manajemen Koleksi Perpustakaan
Pengelola perpustakaan Depdiknas merasa tidak cocok dengan software yang ada, dengan beberapa alasan:
1. Desain aplikasi dan database yang tidak baik atau kurang menerapkan secara serius prinsip-prinsip pengembangan aplikasi dan database yang baik sesuai dengan teori yang ada (PHPMyLibrary, OpenBiblio).
2. Menggunakan teknologi yang sulit dikuasai oleh pengelola perpustakaan Depdiknas (KOHA dan EverGreen dikembangkan menggunakan Perl dan C++ Language yang relatif lebih sulit dipelajari).
3. Beberapa sudah tidak aktif atau lama sekali tidak di rilis versi terbarunya (PHPMyLibrary dan OpenBiblio).
Selengkapnya bisa baca di : https://www.ruangperpustakaan.com/2022/12/sejarah-perkembangan-aplikasi-slims.html